Selasa, 13 September 2011

MODEL PEMBELAJARAN PENCAPAIAN KONSEP PADA POKOK BAHASAN FUNGSI







KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat ilahirobbi yang maha dahsyat, berkat inayah-nyalah makalahnya “Model pembelajaran pencapaian konsep pada pokok Bahasa fungsi ini dapat terselesaikan. Sahalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Ambiya’ Wal Mursalain. Semoga kita semua termasuk kedalam golongan umatnya sehingga memperoleh bagian dari syafaatnya di hari pembalasan nanti Amien.
Penulisan makalah ini merupakan tugas mata kuliah model-model pembelajaran Matematika pada FKIP jurusan Matematika di Universitas Madura Pamekasan, yang penyelesaiannya banyak memproleh dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karenan itu penulis sampaikan terima kasih kepada :
1. Allah SWT
2. Kedua orang tua
3. Dosen model-model pembagian Matematika
Ibu Eva Yusnita, S.Pd.
4. Orang-orang yang mencintai dan menyayangi kami
5. Teman-teman kelompok III, dan
6. Teman-teman kelas.
Mudah-mudahan segala bantuan dan kerjasamanya senantiasa dibalas oleh Allah SWT.
Demikian semoga makalah ini dapat bermanfaat dan berguna bagi para pembaca dan segala tegur sapa yang membangun demi kesempurnaan makalah ini silahkan disampaikan dan penulis haturkan terima kasih atas kepedulian pembaca.








BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Guru sebagai salah satu komponen pendidikan dan merupakan suatu bidang profesi, mempunyai peranan yang sangat vital didalam proses belajar mengajar untuk membawa anak didiknya kepada kedewasaan dalam arti yang sangat luas. Bahkan boleh dikatakan bahwa keberhasilan suatu proses belajar mengajar ini 60% terletak ditangan guru.
Oleh karena itu proses belajar mengajar yang dibabaki oleh guru tidak akan pernah tenggelam atau digantikan oleh alat atau lainnya. Dizaman modern yang ditandai oleh kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi telah merambah seluruh sektor kehidupan. Produk iptek telah menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih praktis dan lebih mudah, sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukan dan diperoleh saat ini dengan mudah dapat segera diwujudkan termasuk didalam dunia pendidikan produk teknologi telah menjadi guru kedua bagi anak.
Selain dari pada itu, pendidikan yang hanya menggunakan metode-metode lama yang mana guru hanya menerangkan dan memberi tugas kepada siswa, yang membuat siswa bosan, akhirnya proses belajar-mengajar menjadi tidak menarik dan membosankan, yang akhirnya tidak ada kemajuan didalam dunia pendidikan. Oleh karena itu perlu adanya model-model pembelajaran yang dijadikan pedoman untuk guru agar proses belajar mengajar lebih menarik yang nantinya mampu membentuk anak didiknya karena kedewasaan seperti yang diharapkan.
Berdasarkan uraian tersebut diata, maka penulis berlatih untuk mengangkat masalah model pembelajaran pencapaian konsep pada mata pelajaran fungsi, yang kemudian penulis jadikan judul dari makalah ini : yaitu :
Pembelajaran model pencapaian konsep pada mata pelajaran fungsi.


B. Rumusan Masalah / Pertanyaan

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas maka secara garis besar masalah yang akan penulis angkat didalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksud dengan pembelajaran model pencapaian konsep ?
2. Sebutkan tujuan-tujuan penggunaan model pencapaian konsep ?
3. Bagaimana merencanakan pelajaran menggunakan model pencapaian konsep?
4. Fase-fase apa saja yang digunakan dalam pembelajaran model pencapaian konsep ?
5. Sebutkan contoh penggunaan fase model pencapaian konsep pada materi “fungsi” ?


C. Tujuan Penulisan

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah penulis paparkan dimuka, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Unutk mengumpulkan, mengolah dan menganalisis tentang model pembelajaran pencapaian konsep.
2. Untuk mengetahui tujuan-tujuan penggunaan pembelajaran model pencapaian konsep.
3. Untuk mengetahui dan mengenal fase-fase apa saja yang digunakan dalam model pencapaian konsep.
4. Untuk memakai penggunaan fase-fase dalam contoh.


D. Batasan Istilah


Demi kelancaran pembahasan pada makalah ini dan agar topik lebih mengena pada hal utama yang akan dibahas, maka penulis memberikan semacam batasan-batasan agar tidak melenceng dari yang dibahas. Dan batasan istilah dari Model Pembelajaran Pencapaian Konsep pada pokok bahasan fungsi yaitu :
1. Model yaitu pola, contoh, acuan.
2. Pembelajaran yaitu seperangkat peristiwa yang dirancang untuk memprakarsai, menggiatkan dan mendukung kegiatan belajar siswa.
3. Pencapaian yaitu suatu prose.
4. Konsep yaitu suatu ide abstrak yang memungkinkan seseorang untuk mengklasifikasi suatu objek dan menerangkan apakah objek tersebut merupakan contoh atau bukan dari ide abstrak.
5. Pokok bahasan yaitu hal utama yang akan dikupas atau dibahas.
6. Fungsi yaitu suatu hubungan / relasi yang memasangkan setiap anggota himpunan I tepat satu ke anggota himpunan II.


Ada empat cara mengajarkan konsep yaitu :
1. Dengan cara mengajarkan objek Matematika yang termasuk konsep dan yang bukan konsep.
2. Pendekatan deduktif, proses pembelajaran yang dimulai dari definisi dan diikuti dengan contoh-contohnya dan dengan yang bukan contoh-contohnya.
3. Pendekatan induktif, dimulai dari contoh lalu membahas definisinya.
4. Kombinasi deduktif dan induktif, dimulai dari contoh lalu membahas definisinya dan kembali ke contoh, atau dimulai dari definisi lalu membahas contohnya lalu kembali membahas definisinya.
Jadi, kesimpulannya yaitu suatu pola / awan dari seperangkat peristiwa yang dirancang untuk mencapai suatu proses dari suatu ide abstrak yang memungkinkan seseorang untuk mengklasifikasi suatu objek utama yang akan dikupas atau dibahas dalam suatu hubungan / relasi yang memasangkan setiap anggota himpunan I tepat satu ke anggota himpunan II.








BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Model Pencapaian Konsep

Pembelajaran model pencapaian konsep adalah suatu strategi mengajar bersifat induktif didefinisikan untuk membantu siswa dari semua usia dalam memperkuat pemahaman mereka terhadap konsep yang dipelajari dari melatih menguji hipotesis. Model tersebut pertama kali diciptakan oleh Joyce dan Weil (dalam Gunter, Este, dan Schwab, 1990: 1972) yang berpijak pada karya Bruner, Goodnow, dan Austin. Model pencapaian konsep bermanfaat untuk memberikan pengalaman metode sains kepada para siswa dan secara khusus menguji hipotesis.
Ada dua peran pokok guru dalam pembelajaran model pencapaian konsep yang perlu diperhatikan, adalah :
1. Menciptakan suatu lingkungan sedemikian hingga siswa merasa bebas untuk berpikir dan menduga tanpa rasa takut dari kritikan atau ejekan.
2. Menjelaskan dan mengilustrasikan bagaimana model pencapaian konsep itu seharusnya berlangsung, membimbing siswa dalam proses itu, membantu siswa menyatakan dan menganalisis hipotesis, dan mengartikulasi pemikiran-pemikiran mereka.
Dalam membimbing aktifitas itu tiga cara penting yang dapat dilakukan oleh guru.
• Pertama guru mendorong siswa untuk menyatakan pemikiran mereka dalam bentuk hipotesis, bukan dalam bentuk observasi.
• Kedua guru menuntun jalan pikiran siswa ketika mereka menetapkan apakah suatu hipotesis diterima atau tidak.
• Ketiga guru meminta siswa untuk menjelaskan mengapa (Why) mereka menerima atau menolak suatu hipotesis.


B. Tujuan-tujuan Penggunaan Model Pencapaian Konsep


Penerapan pembelajaran model konsep mengandung dua tujuan utama yaitu :
1. Tujuan Isi
Tujuan isi model konsep menurut Eggen dan Kauchak (1998) bahwa, lebig efektif untuk memperkaya suatu konsep dari pada belajar pemula (initial learning). Dan juga akan efektif dalam membantu siswa memahami hubungan-hubungan antara konsep-konsep yang terkait erat dan digunakan dalam bentuk review. Dengan kata lain, penggunaan model ini akan lebih efektif jika siswa sudah memiliki pengalaman tentang konsep yang akan dipelajari itu. Bukan siswa yang benar-benar baru mempelajari konsep tersebut.
Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan dalam menerapkan model pencapaian konsep berkaitan dengan tujuan isi tersebut, yaitu :
1. Model pencapaian konsep didesain khusus untuk mengajarkan konsep secara eksklusif. Jadi berfokus semata-mata pada pembelajaran konsep.
2. Siswa yang diajari suatu konsep dengan menggunakan model pencapaian konsep harus memiliki latar belakang pengetahuan tentang konsep tersebut.


2. Tujuan pengembangan berpikir keritis siswa
Model pencapaian konsep lebih memfokuskan pada pengembangan berpikir keritis siswa dalam bentuk menguji hipotesis. Dalam pembelajaran harus ditekankan pada analisis siswa terhadap hipotesis yang ada dan mengapa hipotesis itu diterima, dimodifikasi, atau ditolak. Siswa harus dilatih dalam menciptakan jenis-jenis kesimpulan, seperti membuat contoh penyangkal atau non-contoh, dan sebagainya.
Oleh karena itu, tujuan pembelajaran harus ditekankan pada dua aspek tersebut, yaitu pengembangan konsep dan relasi-relasi antara konsep yang terkait erat, serta latihan berpikir keritis terutama salam merumuskan dan menguji hipotesis. Aspek penting dalam perencanaan pelajaran adalah guru harus mengetahui persis apa yang diinginkan dari siswanya.

C. Merencanakan Pelajaran Model Pencapaian Konsep

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merancang pelajaran menggunakan model pencapaian konsep adalah sebagai berikut :


1. Menetapkan materi
Seperti halnya dengan model-model pembelajaran yang lain, ketika akan menerapkan model pencapaian konsep guru harus menetapkan materi-materi yang akan diajarkan. Materi dalam hal ini bentuknya adalah konsep (bukan generalisasi, rumus, atau prinsip). Konsep yang akan dijarkan itu sebaiknya bukan baru sama sekali bagi siswa. Harus diingat bahwa model ini akan lebih efektif bila siswa yang akan diaja itu memiliki beberapa pengalaman tentang konsep yang akan diajarkan.


2. Pentingnya tujuan pembelajaran yang jelas
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa tujuan penggunaan model pencapaian konsep mencakup membantu siswa mengembangkan konsep dan relasi-relasi antara konsep itu dan memberikan latihan kepada mereka tentang proses berpikir keritis terutama dalam peumusan dan pengujian hipotesis.


3. Memilih contoh dan non-contoh
Faktor yang paling penting dalam memilih contoh adalah mengidentifikasi contoh-contoh yang paling baik mengilustrasikan konsep tersebut.
Disamping itu, contoh yang dipih juga harus dapat memprluas pemikiran siswa tentang konsep yang diajari iru sebagai contoh.
Hal yang lain juga perlu diperhatikan dalam memilih contoh adalah tidak memilih contoh yang terisolasi dari konteks. Artinya contoh yang dipilih harus ada dalam lingkungan dimana siswa beraktifitas dalam kehidupan sehari-hari ataupun yang ada dalam jangkauan pemikirannya.
Selain memilih contoh positif, guru juga menyiapkan contoh-contoh negatif atau non-contoh. Dalam memilih contoh negatif, diupayakan merubah karakteristikesensial menjadi karakteristik non esensial pada konsep yang akan diajarkan dan menyajikan semua hal-hal yang bukan merupakan karakteristik esensial konsep itu.


4. Mengurutkan contoh
Setelah memilih contoh dan non-contoh, tugas akhir dalam merencanakan pelajaran adalah bagaimana mengurutkan contoh dan non-contoh itu. Jika pengembangan berpikir keritis menjadi tujuan penting bagi guru, contoh-contoh itu harus diurutkan sedemikian sehingga para siswa mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir keritis mereka. Menunjukkan secara cepat atau lengsung makna dari konsep yang diajarkan, tidak memberi kesempatan kepada siswa dalam melakukan analisis dan akibatnya tidak menghasilkan pemahaman yang sangat dalam terhadap konsep yang dikaji.
Dalam mengurutkan conth, guru dapat melakukan dengan menyajikan dua atau lebih contoh positifm kemudian diikuti dua atau lebih contoh negatif (non-contoh).


D. Fase Pembelajaran Model Pencapaian Konsep


Pembelajaran model pencapaian konsep terdiri dari empat fase, yaitu (1) fase penyajian contoh, (2) fase analisis hipotesis, (3) fase penutup, dan (4) fase penerapan. Keempat fase tersebut secara singkat diperlihatkan pada tabel 4.1 berikut ini dan deskripsi pada setiap fase.
Tabel 4.1 fase pada Model Pencapaian Konsep
Fase Deskripsi
Penyajian contoh Contoh positif dan negatif di sajikan dan hipotesis dihasilkan
Analisis hipotesis Siswa didorong untuk menganalisis hipotesis dipandang dari sudut contoh-contoh baru
Penutup Penutup terjadi apabila siswa menganalisis contoh-contoh untuk menghasilkan karakteristik-karakteristik esensial untuk membentuk suatu definisi
Penerapan Contoh tambahan di berikan dan dianalisis dalam istilah definisi yang terbentuk


1. Fase 1: Penyajian contoh
Sebelum memasuki fase 1 ini terlebih dahulu guru memberi pengantar tentang prosedur yang digunakan pada model pencapaian konsep ini, terutama kepada siswa yang masih kurang pengalaman. Dalam pengenalan ini, guru dapat menggunakan materi-materi yang sederhana pada kesempatan yang pertama. Setelah siswa memahami prosedur yang berlaku pada model ini, guru dapat memasuki materi yang sesungguhnya untuk dibahas dengan menggunakan model pencapaian konsep.
Setelah aktifitas pengenalan selesai pembelajaran diawali dengan penyajian contoh atau noncontoh yang bertujuan untuk menyediakan data bagi siswa untuk mengawali proses penciptaan hipotesis. Pemakaian noncontoh jelas berbeda dengan hanya menggunakan contoh. Pemakaian noncontoh dirancang untuk menyajiakan adanya kemungkinan-kemungkinan hipotesis secara terbuka.


2. Fase 2 : Analisis hipotesis
Setelah penyajian satu contoh atau lebih guru meminta siswa untuk membuat hipotesis yang memungkinkan kategori-kategori (nama-nama konsep) yang diilustrasikandengan contoh positif. hipotesis-hipotesis tersebut membantu arah perhatian siswa kepada atribut-atribut kritis dan memfokuskan dialog kelas berikutnya pada karakteristik ini. Sebagai contoh perhatikan berikut ini. Misalkan seoarang guru akan mengajarkan konsep bujur sangkar, guru tersebut kemudian memberikan gambar kepada siswa untuk selanjutnya meminta kepada siswa untuk menyusun hipotesis berkenaan dengan gambar tersebut.
Proses siklik dalam fase 1 dan 2 dapat diringkas dalam langkah-langkah sebagai berikut :
• Guru menyajikan contoh positif dan negatif
• Siswa menguji contoh-contoh dan menghasilkan hipotesis
• Guru menyajikan tambahan contoh positif atau contoh negatif
• Siswa menganalisis hipotesis dan menghilangkan hal-hal yang tidak di dukung oleh data (contoh-contoh)
• Siswa menawarkan hipotesis tambahan jika data yang ada mendukung
• Proses menganalisis hipotesis, menghilangkan data yang tidak valid dengan menggantikannya dengan contoh-contoh baru, dan penawaran hipotesis tambahan diulangi hingga satu hipotesis diterima.


3. Fase 3 : Fase penutup
Ketika siswa telah mampu memisahkan hipotesis yang didukung oleh semua contoh dengan hipotesis yang tidak didukung oleh contoh, berarti pelajaran sudah siap untuk ditutup. Pada sesi ini guru meminta siswa untuk mengidentifikasi karakteristik esensial dari konsep dan menyatakan konsep itu dalam bentuk suatu definisi. Definisi itu akan memperkuat pemahaman siswa bila memasukkan didalamnya suatu identifikasi konsep superordinat dan karakteristik-karakteristik konsep itu.


4. Fase 4 : Aplikasi atau penerapan
Pada fase aplikasi siswa diminta untuk menyediakan contoh-contoh lain dari konsep yang dikaji, atau mereka diminta untuk mengidentifikasi contoh-contoh tambahan dari konsep yang telah disiapkan oleh guru. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu mereka memperluas dan mengeneralisasi contoh-contoh baru. Cara lain utuk memperluas pemahaman konsep yang dikaji adalah dengan meminta siswa memberikan klasifikasi contoh-contoh tambahan dari contoh dan non-contoh dan atau menghasilkan tambahan contoh-contoh unik dari mereka.
Fase ke 4 ini penting bagi guru dan siswa. Bagi siswa, fase ini memberi kesempatan kepada mereka menguji cobakan pengetahuan baru mereka pada contoh-contoh yang sudah dikenal oleh siswa. Bagi guru, fase ini memberikan kesempatan berharga untuk mendapatkan umpan balik mengenai bagaimana dan apakah siswa telah memahami konsep yang telah diajarkan.


Dialog antara guru dan siswa
Guru : “Jadi,” manakah diantara gambar-gambar tersebut yang
  merupakan fungsi ?”
Mayoritas siswa : “Gambar No. (1) dan No. (4), Buuu …….. !” (serempak)
Guru : “Bagus kenapa kalian memilih gambar no. (1) dan no. (4) ?”
Siswa I : “Karena, pada gambar (1) dan (4) merupakan arti dari fungsi
  Bu”.
Guru : “ Mmm ……….. lalu fungsi itu sendiri apa ?”
Siswa I : “Fungsi itu hubungan antara himpunan A dan himpunan B”
Siswa II : “Kalau fungsi seperti itu, kenapa anda tidak memilih gambar
  no (2) dan no. (3) ?”
Siswa I : (Diam sesaat). “Ya karena gambar no (2) dan no. (3) sama
  dengan contoh negatif” (Ragu sambil menggigit jari).
Guru : Sudah ………… sudah. Siswa I patut diacungi jempol.
  Karena mempertahankan pendapat, ayo sekarang kamu siswa
  II apa itu fungsi ?”
Siswa II : (Tersenyum) “Maaf Bu, saya tidak tahu,”
Siswa-siswa : (Bersorak). “ Huuuuuuuuuu ………………..
Guru : (Tersenyum kecut).


1. Fase ketiga / Fase penutup
Dialog diambil dari lanjutan fase kedua
Guru : “Ayo, ada yang tahu apa itu fungsi ?”
Siswa III : “Fungsi itu anggota himpunan A dipasangkan tepat satu ke
  anggota himpunan B”
Guru : “Ya ……… ada lagi”


Siswa IV : “Fungsi itu antara jumlah anggota himpunan A dan jumlah
  anggota himpunan B tidak masalah banyaknya.”
Guru : “Maksudnya ?” (mengetes)
Siswa IV : “Iya Bu, kalau jumlah anggota himpunan A ada 5, maka
  jumlah anggota himpunan B ada 9 atau ada 3 itu tidak
  masalah.”
Guru : “Boleh ………… satu lagi !”
Suasana hening sesaat.
Guru : “Sudah ? Tidak ada yang berpendapat lagi !
Semua siswa : “Sudah Buuu …………!”
Guru : “Baik, perhatikan dan simak ibu baikbaik.
  “Fungsi adalah suatu hubungan atau relasi tahu relasikan ?”
Semua siswa : “Ya Buuuuu………..
Guru : “Jadi, fungsi adalah suatu hubungan atau relasi yang
  memasangkan setiap anggota himpunan I tepat satu ke
  anggota himpunan II. Ingat, setiap anggota himpunan I tepat
  satu ke anggota himpunan II.
 Fungsi memiliki aturan main yaitu :
1. Terdapat dua himpunan
2. Setiap anggota himpunan I memasangkan tepat satu anggota himpunan ke II.
3. Angota himpunan I wajib memasangkan diri ke anggota himpunan II, tapi anggota himpunan II tidak masalah tidak mendapat pasangan atau bahkan lebi dari I.


2. Fase penerapan / aplikasi
Guru Siswa
Memberikan beberapa gambar yang terdiri dari contoh positif dan juga contoh negatif kepada siswa disertai alasan, kemudian dikumpulkan dua hari lagi (misalnya). Hal ini bertujuan untuk lebih memantapkan pengertian fungsi pada siswa.
Memberi semacam perintah atau tugas dengan cara “carilah contoh-contoh negatif dari buku-buku penunjang lainnya. Menerima tugas tersebut dan mengerjakanya dengan sungguh-sungguh dan tidak lupa dengan alasan sebagaimana yang diperintahkan oleh gurunya.




- Mencari bahan-bahan yang berkaitan.
- memilah-milah mana yang contoh positif dan mana yang contoh negatif.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pembelajaran model pencapaian konsep suatu strategi mengajar bersifat induktif didesain untuk membantu siswa dari semua usia dalam mengekuti pemahman mereka terhadap konsep yang dipelajari dan melatih menguji hipotesis, Dalam penerapan pembelajaran model pencapaian konsep mengandung dua tujuan utama yaitu : Tujuan isi dan tujuan pengemabangan berpikir kritis siswa. Selain itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan pelajaran menggunakan model pencapaian konsep yaitu : Menetapkan materi, prntingnya tujuan pembelajaran yang jelas, memilih contoh dan non contoh, dan mengurutkan contoh.
Dalam pembelajaran model pencapaian konsep terdapat 4 fase yang harus terpenuhi yaitu : fase 1 (penyajian contoh), fase 2 (analisis hipotesis), fase 3 (penutup), fase 4 (penerapan).
Untuk memahami lebih jelas tentang pembelajaran model pencapaian konsep diterapkan pada materi “fungsi”.


B. Saran-saran
Dengan adanya penyusunan makalah ini kami berharap semoga para pembaca (khusunya siswa) akan semakin menyadari akan peran sertanya dalam rangka peningkatan prestasi belajar siswa, dan juga perilaku siswa sebagai hasil belajar.







0 komentar:

Poskan Komentar