This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Friday, September 16, 2011
Thursday, September 15, 2011
Tuesday, September 13, 2011
MODEL PEMBELAJARAN PENCAPAIAN KONSEP PADA POKOK BAHASAN FUNGSI
September 13, 2011
No comments
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat ilahirobbi yang maha dahsyat, berkat inayah-nyalah makalahnya “Model pembelajaran pencapaian konsep pada pokok Bahasa fungsi ini dapat terselesaikan. Sahalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Ambiya’ Wal Mursalain. Semoga kita semua termasuk kedalam golongan umatnya sehingga memperoleh bagian dari syafaatnya di hari pembalasan nanti Amien.
Penulisan makalah ini merupakan tugas mata kuliah model-model pembelajaran Matematika pada FKIP jurusan Matematika di Universitas Madura Pamekasan, yang penyelesaiannya banyak memproleh dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karenan itu penulis sampaikan terima kasih kepada :
1. Allah SWT
2. Kedua orang tua
3. Dosen model-model pembagian Matematika
Ibu Eva Yusnita, S.Pd.
4. Orang-orang yang mencintai dan menyayangi kami
5. Teman-teman kelompok III, dan
6. Teman-teman kelas.
Mudah-mudahan segala bantuan dan kerjasamanya senantiasa dibalas oleh Allah SWT.
Demikian semoga makalah ini dapat bermanfaat dan berguna bagi para pembaca dan segala tegur sapa yang membangun demi kesempurnaan makalah ini silahkan disampaikan dan penulis haturkan terima kasih atas kepedulian pembaca.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Guru sebagai salah satu komponen pendidikan dan merupakan suatu bidang profesi, mempunyai peranan yang sangat vital didalam proses belajar mengajar untuk membawa anak didiknya kepada kedewasaan dalam arti yang sangat luas. Bahkan boleh dikatakan bahwa keberhasilan suatu proses belajar mengajar ini 60% terletak ditangan guru.
Oleh karena itu proses belajar mengajar yang dibabaki oleh guru tidak akan pernah tenggelam atau digantikan oleh alat atau lainnya. Dizaman modern yang ditandai oleh kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi telah merambah seluruh sektor kehidupan. Produk iptek telah menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih praktis dan lebih mudah, sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukan dan diperoleh saat ini dengan mudah dapat segera diwujudkan termasuk didalam dunia pendidikan produk teknologi telah menjadi guru kedua bagi anak.
Selain dari pada itu, pendidikan yang hanya menggunakan metode-metode lama yang mana guru hanya menerangkan dan memberi tugas kepada siswa, yang membuat siswa bosan, akhirnya proses belajar-mengajar menjadi tidak menarik dan membosankan, yang akhirnya tidak ada kemajuan didalam dunia pendidikan. Oleh karena itu perlu adanya model-model pembelajaran yang dijadikan pedoman untuk guru agar proses belajar mengajar lebih menarik yang nantinya mampu membentuk anak didiknya karena kedewasaan seperti yang diharapkan.
Berdasarkan uraian tersebut diata, maka penulis berlatih untuk mengangkat masalah model pembelajaran pencapaian konsep pada mata pelajaran fungsi, yang kemudian penulis jadikan judul dari makalah ini : yaitu :
Pembelajaran model pencapaian konsep pada mata pelajaran fungsi.
B. Rumusan Masalah / Pertanyaan
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas maka secara garis besar masalah yang akan penulis angkat didalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksud dengan pembelajaran model pencapaian konsep ?
2. Sebutkan tujuan-tujuan penggunaan model pencapaian konsep ?
3. Bagaimana merencanakan pelajaran menggunakan model pencapaian konsep?
4. Fase-fase apa saja yang digunakan dalam pembelajaran model pencapaian konsep ?
5. Sebutkan contoh penggunaan fase model pencapaian konsep pada materi “fungsi” ?
C. Tujuan Penulisan
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah penulis paparkan dimuka, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Unutk mengumpulkan, mengolah dan menganalisis tentang model pembelajaran pencapaian konsep.
2. Untuk mengetahui tujuan-tujuan penggunaan pembelajaran model pencapaian konsep.
3. Untuk mengetahui dan mengenal fase-fase apa saja yang digunakan dalam model pencapaian konsep.
4. Untuk memakai penggunaan fase-fase dalam contoh.
D. Batasan Istilah
Demi kelancaran pembahasan pada makalah ini dan agar topik lebih mengena pada hal utama yang akan dibahas, maka penulis memberikan semacam batasan-batasan agar tidak melenceng dari yang dibahas. Dan batasan istilah dari Model Pembelajaran Pencapaian Konsep pada pokok bahasan fungsi yaitu :
1. Model yaitu pola, contoh, acuan.
2. Pembelajaran yaitu seperangkat peristiwa yang dirancang untuk memprakarsai, menggiatkan dan mendukung kegiatan belajar siswa.
3. Pencapaian yaitu suatu prose.
4. Konsep yaitu suatu ide abstrak yang memungkinkan seseorang untuk mengklasifikasi suatu objek dan menerangkan apakah objek tersebut merupakan contoh atau bukan dari ide abstrak.
5. Pokok bahasan yaitu hal utama yang akan dikupas atau dibahas.
6. Fungsi yaitu suatu hubungan / relasi yang memasangkan setiap anggota himpunan I tepat satu ke anggota himpunan II.
Ada empat cara mengajarkan konsep yaitu :
1. Dengan cara mengajarkan objek Matematika yang termasuk konsep dan yang bukan konsep.
2. Pendekatan deduktif, proses pembelajaran yang dimulai dari definisi dan diikuti dengan contoh-contohnya dan dengan yang bukan contoh-contohnya.
3. Pendekatan induktif, dimulai dari contoh lalu membahas definisinya.
4. Kombinasi deduktif dan induktif, dimulai dari contoh lalu membahas definisinya dan kembali ke contoh, atau dimulai dari definisi lalu membahas contohnya lalu kembali membahas definisinya.
Jadi, kesimpulannya yaitu suatu pola / awan dari seperangkat peristiwa yang dirancang untuk mencapai suatu proses dari suatu ide abstrak yang memungkinkan seseorang untuk mengklasifikasi suatu objek utama yang akan dikupas atau dibahas dalam suatu hubungan / relasi yang memasangkan setiap anggota himpunan I tepat satu ke anggota himpunan II.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Model Pencapaian Konsep
Pembelajaran model pencapaian konsep adalah suatu strategi mengajar bersifat induktif didefinisikan untuk membantu siswa dari semua usia dalam memperkuat pemahaman mereka terhadap konsep yang dipelajari dari melatih menguji hipotesis. Model tersebut pertama kali diciptakan oleh Joyce dan Weil (dalam Gunter, Este, dan Schwab, 1990: 1972) yang berpijak pada karya Bruner, Goodnow, dan Austin. Model pencapaian konsep bermanfaat untuk memberikan pengalaman metode sains kepada para siswa dan secara khusus menguji hipotesis.
Ada dua peran pokok guru dalam pembelajaran model pencapaian konsep yang perlu diperhatikan, adalah :
1. Menciptakan suatu lingkungan sedemikian hingga siswa merasa bebas untuk berpikir dan menduga tanpa rasa takut dari kritikan atau ejekan.
2. Menjelaskan dan mengilustrasikan bagaimana model pencapaian konsep itu seharusnya berlangsung, membimbing siswa dalam proses itu, membantu siswa menyatakan dan menganalisis hipotesis, dan mengartikulasi pemikiran-pemikiran mereka.
Dalam membimbing aktifitas itu tiga cara penting yang dapat dilakukan oleh guru.
• Pertama guru mendorong siswa untuk menyatakan pemikiran mereka dalam bentuk hipotesis, bukan dalam bentuk observasi.
• Kedua guru menuntun jalan pikiran siswa ketika mereka menetapkan apakah suatu hipotesis diterima atau tidak.
• Ketiga guru meminta siswa untuk menjelaskan mengapa (Why) mereka menerima atau menolak suatu hipotesis.
B. Tujuan-tujuan Penggunaan Model Pencapaian Konsep
Penerapan pembelajaran model konsep mengandung dua tujuan utama yaitu :
1. Tujuan Isi
Tujuan isi model konsep menurut Eggen dan Kauchak (1998) bahwa, lebig efektif untuk memperkaya suatu konsep dari pada belajar pemula (initial learning). Dan juga akan efektif dalam membantu siswa memahami hubungan-hubungan antara konsep-konsep yang terkait erat dan digunakan dalam bentuk review. Dengan kata lain, penggunaan model ini akan lebih efektif jika siswa sudah memiliki pengalaman tentang konsep yang akan dipelajari itu. Bukan siswa yang benar-benar baru mempelajari konsep tersebut.
Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan dalam menerapkan model pencapaian konsep berkaitan dengan tujuan isi tersebut, yaitu :
1. Model pencapaian konsep didesain khusus untuk mengajarkan konsep secara eksklusif. Jadi berfokus semata-mata pada pembelajaran konsep.
2. Siswa yang diajari suatu konsep dengan menggunakan model pencapaian konsep harus memiliki latar belakang pengetahuan tentang konsep tersebut.
2. Tujuan pengembangan berpikir keritis siswa
Model pencapaian konsep lebih memfokuskan pada pengembangan berpikir keritis siswa dalam bentuk menguji hipotesis. Dalam pembelajaran harus ditekankan pada analisis siswa terhadap hipotesis yang ada dan mengapa hipotesis itu diterima, dimodifikasi, atau ditolak. Siswa harus dilatih dalam menciptakan jenis-jenis kesimpulan, seperti membuat contoh penyangkal atau non-contoh, dan sebagainya.
Oleh karena itu, tujuan pembelajaran harus ditekankan pada dua aspek tersebut, yaitu pengembangan konsep dan relasi-relasi antara konsep yang terkait erat, serta latihan berpikir keritis terutama salam merumuskan dan menguji hipotesis. Aspek penting dalam perencanaan pelajaran adalah guru harus mengetahui persis apa yang diinginkan dari siswanya.
C. Merencanakan Pelajaran Model Pencapaian Konsep
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merancang pelajaran menggunakan model pencapaian konsep adalah sebagai berikut :
1. Menetapkan materi
Seperti halnya dengan model-model pembelajaran yang lain, ketika akan menerapkan model pencapaian konsep guru harus menetapkan materi-materi yang akan diajarkan. Materi dalam hal ini bentuknya adalah konsep (bukan generalisasi, rumus, atau prinsip). Konsep yang akan dijarkan itu sebaiknya bukan baru sama sekali bagi siswa. Harus diingat bahwa model ini akan lebih efektif bila siswa yang akan diaja itu memiliki beberapa pengalaman tentang konsep yang akan diajarkan.
2. Pentingnya tujuan pembelajaran yang jelas
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa tujuan penggunaan model pencapaian konsep mencakup membantu siswa mengembangkan konsep dan relasi-relasi antara konsep itu dan memberikan latihan kepada mereka tentang proses berpikir keritis terutama dalam peumusan dan pengujian hipotesis.
3. Memilih contoh dan non-contoh
Faktor yang paling penting dalam memilih contoh adalah mengidentifikasi contoh-contoh yang paling baik mengilustrasikan konsep tersebut.
Disamping itu, contoh yang dipih juga harus dapat memprluas pemikiran siswa tentang konsep yang diajari iru sebagai contoh.
Hal yang lain juga perlu diperhatikan dalam memilih contoh adalah tidak memilih contoh yang terisolasi dari konteks. Artinya contoh yang dipilih harus ada dalam lingkungan dimana siswa beraktifitas dalam kehidupan sehari-hari ataupun yang ada dalam jangkauan pemikirannya.
Selain memilih contoh positif, guru juga menyiapkan contoh-contoh negatif atau non-contoh. Dalam memilih contoh negatif, diupayakan merubah karakteristikesensial menjadi karakteristik non esensial pada konsep yang akan diajarkan dan menyajikan semua hal-hal yang bukan merupakan karakteristik esensial konsep itu.
4. Mengurutkan contoh
Setelah memilih contoh dan non-contoh, tugas akhir dalam merencanakan pelajaran adalah bagaimana mengurutkan contoh dan non-contoh itu. Jika pengembangan berpikir keritis menjadi tujuan penting bagi guru, contoh-contoh itu harus diurutkan sedemikian sehingga para siswa mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir keritis mereka. Menunjukkan secara cepat atau lengsung makna dari konsep yang diajarkan, tidak memberi kesempatan kepada siswa dalam melakukan analisis dan akibatnya tidak menghasilkan pemahaman yang sangat dalam terhadap konsep yang dikaji.
Dalam mengurutkan conth, guru dapat melakukan dengan menyajikan dua atau lebih contoh positifm kemudian diikuti dua atau lebih contoh negatif (non-contoh).
D. Fase Pembelajaran Model Pencapaian Konsep
Pembelajaran model pencapaian konsep terdiri dari empat fase, yaitu (1) fase penyajian contoh, (2) fase analisis hipotesis, (3) fase penutup, dan (4) fase penerapan. Keempat fase tersebut secara singkat diperlihatkan pada tabel 4.1 berikut ini dan deskripsi pada setiap fase.
Tabel 4.1 fase pada Model Pencapaian Konsep
Fase Deskripsi
Penyajian contoh Contoh positif dan negatif di sajikan dan hipotesis dihasilkan
Analisis hipotesis Siswa didorong untuk menganalisis hipotesis dipandang dari sudut contoh-contoh baru
Penutup Penutup terjadi apabila siswa menganalisis contoh-contoh untuk menghasilkan karakteristik-karakteristik esensial untuk membentuk suatu definisi
Penerapan Contoh tambahan di berikan dan dianalisis dalam istilah definisi yang terbentuk
1. Fase 1: Penyajian contoh
Sebelum memasuki fase 1 ini terlebih dahulu guru memberi pengantar tentang prosedur yang digunakan pada model pencapaian konsep ini, terutama kepada siswa yang masih kurang pengalaman. Dalam pengenalan ini, guru dapat menggunakan materi-materi yang sederhana pada kesempatan yang pertama. Setelah siswa memahami prosedur yang berlaku pada model ini, guru dapat memasuki materi yang sesungguhnya untuk dibahas dengan menggunakan model pencapaian konsep.
Setelah aktifitas pengenalan selesai pembelajaran diawali dengan penyajian contoh atau noncontoh yang bertujuan untuk menyediakan data bagi siswa untuk mengawali proses penciptaan hipotesis. Pemakaian noncontoh jelas berbeda dengan hanya menggunakan contoh. Pemakaian noncontoh dirancang untuk menyajiakan adanya kemungkinan-kemungkinan hipotesis secara terbuka.
2. Fase 2 : Analisis hipotesis
Setelah penyajian satu contoh atau lebih guru meminta siswa untuk membuat hipotesis yang memungkinkan kategori-kategori (nama-nama konsep) yang diilustrasikandengan contoh positif. hipotesis-hipotesis tersebut membantu arah perhatian siswa kepada atribut-atribut kritis dan memfokuskan dialog kelas berikutnya pada karakteristik ini. Sebagai contoh perhatikan berikut ini. Misalkan seoarang guru akan mengajarkan konsep bujur sangkar, guru tersebut kemudian memberikan gambar kepada siswa untuk selanjutnya meminta kepada siswa untuk menyusun hipotesis berkenaan dengan gambar tersebut.
Proses siklik dalam fase 1 dan 2 dapat diringkas dalam langkah-langkah sebagai berikut :
• Guru menyajikan contoh positif dan negatif
• Siswa menguji contoh-contoh dan menghasilkan hipotesis
• Guru menyajikan tambahan contoh positif atau contoh negatif
• Siswa menganalisis hipotesis dan menghilangkan hal-hal yang tidak di dukung oleh data (contoh-contoh)
• Siswa menawarkan hipotesis tambahan jika data yang ada mendukung
• Proses menganalisis hipotesis, menghilangkan data yang tidak valid dengan menggantikannya dengan contoh-contoh baru, dan penawaran hipotesis tambahan diulangi hingga satu hipotesis diterima.
3. Fase 3 : Fase penutup
Ketika siswa telah mampu memisahkan hipotesis yang didukung oleh semua contoh dengan hipotesis yang tidak didukung oleh contoh, berarti pelajaran sudah siap untuk ditutup. Pada sesi ini guru meminta siswa untuk mengidentifikasi karakteristik esensial dari konsep dan menyatakan konsep itu dalam bentuk suatu definisi. Definisi itu akan memperkuat pemahaman siswa bila memasukkan didalamnya suatu identifikasi konsep superordinat dan karakteristik-karakteristik konsep itu.
4. Fase 4 : Aplikasi atau penerapan
Pada fase aplikasi siswa diminta untuk menyediakan contoh-contoh lain dari konsep yang dikaji, atau mereka diminta untuk mengidentifikasi contoh-contoh tambahan dari konsep yang telah disiapkan oleh guru. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu mereka memperluas dan mengeneralisasi contoh-contoh baru. Cara lain utuk memperluas pemahaman konsep yang dikaji adalah dengan meminta siswa memberikan klasifikasi contoh-contoh tambahan dari contoh dan non-contoh dan atau menghasilkan tambahan contoh-contoh unik dari mereka.
Fase ke 4 ini penting bagi guru dan siswa. Bagi siswa, fase ini memberi kesempatan kepada mereka menguji cobakan pengetahuan baru mereka pada contoh-contoh yang sudah dikenal oleh siswa. Bagi guru, fase ini memberikan kesempatan berharga untuk mendapatkan umpan balik mengenai bagaimana dan apakah siswa telah memahami konsep yang telah diajarkan.
Dialog antara guru dan siswa
Guru : “Jadi,” manakah diantara gambar-gambar tersebut yang
merupakan fungsi ?”
Mayoritas siswa : “Gambar No. (1) dan No. (4), Buuu …….. !” (serempak)
Guru : “Bagus kenapa kalian memilih gambar no. (1) dan no. (4) ?”
Siswa I : “Karena, pada gambar (1) dan (4) merupakan arti dari fungsi
Bu”.
Guru : “ Mmm ……….. lalu fungsi itu sendiri apa ?”
Siswa I : “Fungsi itu hubungan antara himpunan A dan himpunan B”
Siswa II : “Kalau fungsi seperti itu, kenapa anda tidak memilih gambar
no (2) dan no. (3) ?”
Siswa I : (Diam sesaat). “Ya karena gambar no (2) dan no. (3) sama
dengan contoh negatif” (Ragu sambil menggigit jari).
Guru : Sudah ………… sudah. Siswa I patut diacungi jempol.
Karena mempertahankan pendapat, ayo sekarang kamu siswa
II apa itu fungsi ?”
Siswa II : (Tersenyum) “Maaf Bu, saya tidak tahu,”
Siswa-siswa : (Bersorak). “ Huuuuuuuuuu ………………..
Guru : (Tersenyum kecut).
1. Fase ketiga / Fase penutup
Dialog diambil dari lanjutan fase kedua
Guru : “Ayo, ada yang tahu apa itu fungsi ?”
Siswa III : “Fungsi itu anggota himpunan A dipasangkan tepat satu ke
anggota himpunan B”
Guru : “Ya ……… ada lagi”
Siswa IV : “Fungsi itu antara jumlah anggota himpunan A dan jumlah
anggota himpunan B tidak masalah banyaknya.”
Guru : “Maksudnya ?” (mengetes)
Siswa IV : “Iya Bu, kalau jumlah anggota himpunan A ada 5, maka
jumlah anggota himpunan B ada 9 atau ada 3 itu tidak
masalah.”
Guru : “Boleh ………… satu lagi !”
Suasana hening sesaat.
Guru : “Sudah ? Tidak ada yang berpendapat lagi !
Semua siswa : “Sudah Buuu …………!”
Guru : “Baik, perhatikan dan simak ibu baikbaik.
“Fungsi adalah suatu hubungan atau relasi tahu relasikan ?”
Semua siswa : “Ya Buuuuu………..
Guru : “Jadi, fungsi adalah suatu hubungan atau relasi yang
memasangkan setiap anggota himpunan I tepat satu ke
anggota himpunan II. Ingat, setiap anggota himpunan I tepat
satu ke anggota himpunan II.
Fungsi memiliki aturan main yaitu :
1. Terdapat dua himpunan
2. Setiap anggota himpunan I memasangkan tepat satu anggota himpunan ke II.
3. Angota himpunan I wajib memasangkan diri ke anggota himpunan II, tapi anggota himpunan II tidak masalah tidak mendapat pasangan atau bahkan lebi dari I.
2. Fase penerapan / aplikasi
Guru Siswa
Memberikan beberapa gambar yang terdiri dari contoh positif dan juga contoh negatif kepada siswa disertai alasan, kemudian dikumpulkan dua hari lagi (misalnya). Hal ini bertujuan untuk lebih memantapkan pengertian fungsi pada siswa.
Memberi semacam perintah atau tugas dengan cara “carilah contoh-contoh negatif dari buku-buku penunjang lainnya. Menerima tugas tersebut dan mengerjakanya dengan sungguh-sungguh dan tidak lupa dengan alasan sebagaimana yang diperintahkan oleh gurunya.
- Mencari bahan-bahan yang berkaitan.
- memilah-milah mana yang contoh positif dan mana yang contoh negatif.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pembelajaran model pencapaian konsep suatu strategi mengajar bersifat induktif didesain untuk membantu siswa dari semua usia dalam mengekuti pemahman mereka terhadap konsep yang dipelajari dan melatih menguji hipotesis, Dalam penerapan pembelajaran model pencapaian konsep mengandung dua tujuan utama yaitu : Tujuan isi dan tujuan pengemabangan berpikir kritis siswa. Selain itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan pelajaran menggunakan model pencapaian konsep yaitu : Menetapkan materi, prntingnya tujuan pembelajaran yang jelas, memilih contoh dan non contoh, dan mengurutkan contoh.
Dalam pembelajaran model pencapaian konsep terdapat 4 fase yang harus terpenuhi yaitu : fase 1 (penyajian contoh), fase 2 (analisis hipotesis), fase 3 (penutup), fase 4 (penerapan).
Untuk memahami lebih jelas tentang pembelajaran model pencapaian konsep diterapkan pada materi “fungsi”.
B. Saran-saran
Dengan adanya penyusunan makalah ini kami berharap semoga para pembaca (khusunya siswa) akan semakin menyadari akan peran sertanya dalam rangka peningkatan prestasi belajar siswa, dan juga perilaku siswa sebagai hasil belajar.
Konsep Mol
September 13, 2011
No comments
Bila dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal satuan jumlah berupa lusin (12 buah), kodi (20 buah), dan rim (500 buah) maka dalam kimia kita mengenal mol sebagai satuan jumlah. Satu mol didefinisikan sebagai jumlah zat yang mengandung partikel sebanyak jumlah atom dalam 12 gram karbon-12. Karena massa 1 atom C-12 adalah 1,992 × 10-23 gram, maka jumlah atom dalam 1 mol (12 gram) C-12 dapat dihitung dengan cara berikut:




Bilangan 6,02 x 1023 ini disebut dengan bilangan Avogadro dan diberi lambang Latau NA. Dengan demikian, 1 mol zat adalah jumlah zat yang mengandung 6,02 x 1023 partikel. Jika n menyatakan jumlah mol dan N menyatakan jumlah atom atau molekul, maka hubungan n dan N dapat dituliskan dalam rumus berikut.
Massa Molar
Massa molar adalah massa 1 mol zat. Nilai massa molar suatu zat selalu sama dengan Ar atau Mr zat tersebut. Hubungan massa dan jumlah mol suatu zat dapat ditulis dalam bentuk rumus berikut.
Volume Molar Gas
Volume molar gas adalah volume 1 mol gas. Karena volume gas sangat dipengaruhi oleh suhu dan tekanan, dalam stoikiometri para ahli kimia menetapkan suatu kondisi acuan dalam penentuan volume molar. Kondisi acuan ini adalah 0 °C (273 K) dan 1 atm. Kondisi ini disebut kondisi standar atau STP (Standard Temperature and Pressure). Pada kondisi STP, volume molar gas adalah 22,4 L. Dengan demikian, hubungan jumlah mol gas (n) dengan volumenya dapat dituliskan dengan persamaan berikut.
Volume (V) dan volume molar (Vm) gas dinyatakan dalam satuan liter.
Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran
September 13, 2011
No comments
Posted Jum, 03/10/2008 - 13:12 by akhmadsudrajat
oleh: Akhmad Sudrajat
Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :
Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.
Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.
Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.
Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:
Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.
Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.
Sumber:
Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.
Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.
Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran (http://smacepiring.wordpress.com/)
oleh: Akhmad Sudrajat
Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :
Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.
Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.
Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.
Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:
Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.
Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.
Sumber:
Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.
Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.
Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran (http://smacepiring.wordpress.com/)
Monday, September 12, 2011
Saturday, September 10, 2011
September 10, 2011
No comments
Soal Prediksi Statistika dan peluang (kelas 9)
soal statistika dan peluang.
Seri A ;
adalah 5,1. Jika seorang siswa tidak disertakan dalam
perhitungan maka nilai rata-ratanya menjadi 5,0. Nilai
siswa tersebut adalah …
A. 9,0
B. 8,0
C. 7,5
D. 6,0
E. 5,5
2. Ditentukan data : 6 , 7 , 3 , 2 , 2 , 2 , 2 , 5 , 4 , 8 .
Jangkauan semi inter kuartil adalah …
A. 5,25
B. 2,25
C. 4
D. 2,125
E. 2
03.
Dari data 7 , 8 , 5 , 6 , 9 , 7 , 10 , 9 median adalah …
A. 6
B. 7,5
C. 8
D. 8,5
E. 9
04.
Dari 10 data berikut 1, 3, 5, 6, 6, 6, 8, 9, 10, 12
tentukan kuartil atas (Q3) …
A. 5
B. 6
C. 7
D. 8
E. 9
05. Simpangan kuartil dari data 16, 15, 15, 19, 20, 22, 16,
17, 25, 29, 32, 29, 32 adalah …
A. 6
B. 6,5
C. 8
D. 9,5
E. 16
06.
Simpangan kuartil dari data : 2, 4, 3, 2, 6, 5, 5, 5, 4, 8,
7, 6, 8, 4, 3 adalah …
A. 1,0
B. 1,5
C. 2,0
D. 2,5
E. 3,0
07.Jika sebuah dadu dan sekeping mata uang dilempar
undi satu kali bersama, maka peluang untuk
memperoleh gambar pada mata uang dan bilangan
ganjil pada dadu adalah …
08.Sebuah mata uang dan sebuah dadu dilempar undi
sekali. Peluang munculnya angka pada mata uang daan
bilangan prima pada dadu adalah ……
09.Suatu kelas terdiri dari 40 siswa, 25 siswa gemar
matema tika, 21 siswa gemar IPA dan 9 siswa gemar
matematika dan IPA. Peluang seorang tidak gemar
matematika maupun IPA adalah …
10. Sebuah kartu diambil secara acak dari satu set lengkap
kartu bridge. Peluang bahwa yang terambil adalah
kartu merah atau As adalah …
Seri B ;
1. Terdapat data 3, 4, 6, 6, 8, 4, 6, 9, 2, 4, 6, 2, 5
Modus data tersebut adalah…
a. 4 c. 6
b. 2
d. 5
Jawaban: c.
Penjelasan: Angka yang paling sering keluar adalah angka 6.
3, 4, 6, 6, 8, 4, 6, 9, 2, 4, 6, 2, 5
2. Terdapat data 2, 4, 6, 8, 5
Median data tersebut adalah…
a. 6 c. 2
b. 7 d. 5
Jawaban: d.
Penjelasan: Angka yang berada di tengah-tengah ketika data tersebut di urut dari yang terkecil hingga terbesar.
2. 4. 5. 6. 8
3. Terdapat data 6, 3, 2, 8, 11, 9, 4
Simpangan Kuartil (Qd) data tersebut adalah…
a. 3 c. 2
b. 1 d. 4
Jawaban: b.
Penjelasan: Rumus Simpangan Kuartil (Qd) adalah: Qd=
Penjelasan: Rumus Simpangan Kuartil (Qd) adalah: Qd=
Q1, Q2, Q3
2, 3, 4, 6, 8, 9, 11
4. Terdapat data 6, 8, 5, 10, 6, 9, 3, 11
Rataan data tersebut adalah…
a. 6,25 c. 7,25
b. 6 d. 7
Jawaban: c.
Penjelasan:Rumus rataan: Rataan =
Rataan =
5. Hasil tes matematika 14 siswa sebagai berikut: 4, 5, 5, 6, 7, 8, 7, 6, 9, 7, 5, 9, 8, 7. Banyaknya siswa yang mempunyai nilai di bawah rata-rata adalah...
a. 4 orang c. 6 orang
b. 5 orang d. 13 orang
Jawaban: c.
Pembahasan: Hasil tes matematika 14 orang siswa sebagai berikut: 4, 5, 5, 6, 7, 8, 7, 6, 9, 7, 5, 9, 8, 7.
Rataan =
Murid yang nilainya di bawah 6,6 ada 6 orang.
6. Jangkauan data dari data 3, 4, 5, 5, 6, 6, 6, 7, 8, 9, 9, 10 adalah...
a. 6 c. 5
b. 7 d. 4
Jawaban: b.
Penjelasan: Jangkauan adalah angka yang paling besar yang ada di data tersebut dikurangi oleh angka terkecil di data tersebut.
3, 4, 5, 5, 6, 6, 6, 7, 8, 9, 9, 10 Jadi 10 – 3 = 7
7. Peluang siswa A dan B lulus UN SMP berturut-turut
adalah 0,98 dan 0,95. Peluang siswa A lulus UN SMP
dan B tidak lulus adalah …
A. 0,019
B. 0,049
C. 0,074
D. 0,935
E. 0,978
8.
Dari 10 butir telur terdapat 2 butir yang busuk. Seorang
ibu membeli 2 butir telur tanpa memilih. Peluang
mendapat 2 butir telur yang baik adalah ,,,
9.
Dua buah dadu dilambungkan bersama-sama. Peluang
muncul mata dadu pertama 3 dan mata dadu kedua 5
adalah …
10.
Dua dadu dilempar bersama. Peluang muncul mata
dadu berjumlah 7 adalah …
11.
Dua buah dadu dilempar undi bersama-sama. Peluang
munculnya jumlah mata dadu 9 atau 10 adalah …
12.
Dua buah dadu dilempar bersama-sama satu kali.
Peluang munculnya mata dadu berjumlah 7 atau 10
adalah …
13.
Dua dadu dilemparkan satu kali. Peluang munculnya 2
mata dadu yang berjumlah 3 atau 10, adalah …
14.
Pada pelemparan dua dadu bersama-sama, satu kali,
maka peluang munculnya jumlah ke dua dadu sama
dengan 3 atau 10 adalah …
15.
Pada pelemparan dua buah dadu satu kali, peluang mun
culnya mata dadu berjumlah 5 atau 8 adalah …
Thursday, September 8, 2011
Soal Latihan SPLDV
Soal No. 1 Diberikan dua persamaan linier 2x + y = 12 dan x − y = 3 . Tentukan nilai x dan nilai y dengan menggunakan metode eliminasi! Pem...











